Senin, 06 Agustus 2012

HIKMAH UTAMA PUASA BULAN RAMADHAN

Melainkan karena ridha Allah atas perjuangan panjang bangsa ini. Atas semangat persaudaraan dan persatuan serta komitmen kebangsaan, segenap elemen bangsa telah mufakat dan sepakat untuk hidup damai dan sejahtera di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selama enam puluh tujuh tahun menelusuri lorong-lorong kemerdekaan bersama Orde Lama, Orde Baru, dan sekarang Orde Reformasi, telah banyak pengalaman dan dinamika sejarah yang dilalui oleh bangsa besar ini.
Berbagai kendala telah diatasi dan berbagai kemajuan telah pula dinikmati. Meski berbagai dinamika politik telah terjadi, namun seluruh anak bangsa tetap bersatu visi dan misi, aman tentram dalam bingkai NKRI. Meski harus disadari bahwa belakangan ini terasa adanya suatu fenomena yang mengundang komentar galau dari para tokoh bangsa, seakan persatuan dan kesatuan bangsa saat ini tengah menghadapi krisis rasa persaudaraan dan rasa senasib sepanggungan, dan kian lunturnya semangat kebangsaan.
Kebijakan otonomi beriring desentralisasi dan demokratisasi yang bertujuan memajukan dan pemerataan pembangungan, justru terkesan berbuah egoisme lokal yang cenderung mengabaikan semangat dan kepentingan nasional. Ketika kita berazam menghayati pesan dan berkah ramadan, maka yang pertama disadari dalam pikiran adalah pesan dan berkah persaudaraan yang melahirkan rasa senasib sepenanggungan dalam kesadaran kebangsaan.
Ramadan telah menyadarkan umat manusia, muslimin dan muslimat khususnya, akan pentingnya persaudaraan dan persatuan, dan perlunya keniscayaan interaksi sosial kebangsaaan yang bermoral. Betapa, misalnya, sebuah fenomena yang luar biasa dan menakjubkan, bahwa bersama ramadhan muslimin dan muslimat hidup penuh keakraban, mereka sangat antusias selalu bersilaturrahim dalam majlis berjamaah dan bermuwajahah di setiap kesempatan beribadah.
Sementara itu, semaraknya kepedulian dan kesalehan sosial antar sesama menjadikan si kaya dan si miskin dalam satu rasa, saling peduli meringankan beban ekonomi sesama saudara sebangsa. Islam, di samping menekankan ukhuwwah Islamiah, juga sangat menjunjung tinggi ukhuwwah wathaniah atau persaudaraan dan persatuan kebangsaan.
Alquran, antara lain, menegaskan: ”Dan bersatu teguhlah kamu dengan ikatan agama Allah dan jangan bercerai berai. Ingatlah selalu akan nikmat Allah ketika kamu dahulu saling bermusuhan, lalu Allah persebatikan hati kamu dan karena nikmatNya jadilah kamu orang-orang yang bersaudara (Q.S 3:103).
Di dalam ayat lain Allah berfirman: ” Dan taatlah kamu sekalian kepada Allah dan rasulNya, janganlah kamu suka berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu gagal dan kehilangan kekuatan. Dan hendaklah kamu selalu besabar, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Q.S.8: 46) Kiranya dari dua ayat Alquran ini sudah jelas memberikan pencerahan dan kesadaran bagi kita sekalian, bahwa karena persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dapat merdeka, dan karena itu pula bangsa ini tetap berdaulat dan kuat di sepanjang masa.
Adalah pekikan kalimat perjuangan yang selamanya menjadi pegangan kebangsaan, bahwa bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, al-ittihadu quwwatun wa al-tafarruqu dha`fun. Maka sempena momentum ramadan 1433 H penuh berkah ini, mari kita tingkatkan kesadaran persaudaraan dan perkokoh persatuan serta kobarkan semangat kebangsaan, demi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdaulat dan bermarwah dalam ridha Allah, yang cemerlang, gemilang, dan terbilang di tengah-tengah pergaulan bangsa-bangsa yang berbilang-bilang.
Jadilah negara Indonesia yang adil dan makmur, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Rasa parsaudaraan dan semangat kebangsaan yang tumbuh berakar bersama berkah ramadhan tahun ini, segera akan kita pupuk dan perkokoh kembali bersama momentum PON XVIII di bumi Lancang Kuning Provinsi Riau pada bulan September 2012 nanti.
Pekan Olahraga Nasional (PON) tidak sekedar momentum dan perhelatan olahraga untuk menang meraih prestasi dan merebut ratusan medali semata, namun yang lebih substatif lagi adalah media pemersatu bangsa atas dasar kebangsaan, patriotisme dan nasionalisme Indonesia dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Bersama sportivitas PON XVIII, bangsa ini tidak akan menonjolkan perbedaan agama, suku, bahasa, dan berbagai aspek budaya lainnya; melainkan hanya untuk menunjukkan satu kebanggaan, yakni kebanggaan dalam satu kebangsaan dan keindonesiaan.
Cita-cita meraih prestasi merebut medali dalam perhelatan PON XVIII nanti adalah pasti adanya, tetapi tekad memperkokoh persatuan kebangsaan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kewajiban kita sebagai bangsa. Hanya ada satu pesan dan kepentingan politik yang tersirat pada PON XVIII di Provinsi Riau nanti, yakni keutuhan dan kedaulatan NKRI.
Maka doa kita semua di sepanjang bulan ramadan penuh keberkahan, semoga perhelatan PON XVIII 2012 di bumi Lancang Kuning Provinsi Riau tidak tertunda oleh suatu kendala dan halangan, dan dapat terlaksana dengan sukses sesuai jadwal yang telah ditetapkan, dalam suasana aman dan nyaman penuh keakraban atas dasar rasa persaudaraan dan semangat kebangsaan.
Kalau dulu bangsa ini telah bersebati, berjibaku berjuang sehidup semati, dan berhasil merebut kemerdekaan bumi pertiwi, maka adalah musibah yang sangat memilukan kalau setelah sekian lama merdeka justru rasa persaudaraan dan persatuan bangsa menjadi korban akibat ego kepentingan kelompok dan golongan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar